Pages

February 26, 2015

Seharusnya, aku tidak mencintaimu

Reactions: 
Di kamarku yang sepi, sambil mendengarkan rintik hujan malam ini, aku hanya bisa diam dan merenung. Mungkin, aku perempuan paling tolol yang pernah ada, perempuan yang selalu mencintaimu tanpa banyak menuntut dan meminta. Ketika wanita jalang itu mengaku kekasihmu, aku hanya tersenyum sinis dan tertawa. Dalam pikiranku, dialah yang mendekatimu, dialah yang diam-diam masuk dalam hubungan kita, dan dialah yang memurahkan diri untuk melahap habis perhatianmu.

Saat mencintaimu, aku tak ingin percaya pendapat siapapun. Aku tak ingin percaya pada bisikan sahabatku bahwa kamu adalah rubah dengan wajah domba, serigala dengan tatapan kucing manja, dan kelalawar bertaring ompong. Ya, aku tak ingin percaya apa kata mereka, yang aku tahu; kamu mencintaiku dan aku sangat menggilaimu setulus hati.

Kamu menawarkan banyak mimpi padaku, sebagai perempuan yang masih meraba-raba apa itu cinta; aku tak menolak untuk masuk ke dalam dunia khayalmu. Kau tidak memaksaku masuk ke dalam hujan dan badai, kau sediakan pelangimu sendiri, pelangi kita, yang ternyata-- semu.

Aku ingat bagaimana pertemuan awal kita adalah pertemuan terbodoh yang pernah terjadi dalam hidupku. Kaudiam dan aku diam. Kau sebutkan nama dan aku memulai cerita. Kau suguhkan perkenalan dan aku menerima perkenalan itu dengan senyum bahagia. Bahagia. Karena aku sudah mencintaimu bahkan saat pertama kali kamu menyapaku lewat chat kita. Aku sudah memilihmu bahkan sebelum kita bertemu.

Aku ingat bagaimana saat jemarimu menggenggam erat jemariku. Bagaimana mata itu menatap mataku dengan tatapan rindu. Bagaimana senyummu berhasil membuat aku tak ingin jauh dari ponsel, karena tak ingin berhenti menatap fotomu. Bagaimana bibirmu yang selalu terlihat tertawa ketika bersamaku memaksa aku untuk terus menceritakan hal-hal lucu, agar sekali lagi bisa aku rasakan keteduhan yang tak bisa dijelaskan; dari percakapan bodoh kita yang terjalin semalaman.

Enam bulan ini, kamulah satu-satunya, meskipun kamu selalu menuduhku bersama pria yang lain. Beberapa bulan ini, walaupun hanya beberapa, namun sosokmu telah melekat sangat dalam. Kamu berhasil membuatku lupa pada masa laluku, lupa bahwa aku pernah punya luka, dan aku lupa bahwa kita memang belum terikat status apa-apa. Kamulah yang terbaik, pikirku, dan aku tak peduli apa kata orang tentangmu. Yang jelas, aku mencintaimu, dan itu tak akan berubah meskipun wanita jalang itu mengaku bahwa kalian telah tiga bulan bersama, mengaku bahwa kaujuga memanggil dia dengan panggilan yang sama; panggilan yang kau berikan padaku juga.

Aku tidak peduli dan menutup telinga pada apapun yang membuatku sebenarnya tersiksa. Aku jatuh cinta padamu dan aku sangat mempercayaimu. Aku percaya kautidak akan menyakitiku karena aku masih yakin kamu adalah kamu, kamu yang kukenal, kamu yang tanpa topeng, dan kamu yang seutuhnya dirimu. Itulah caraku menilaimu, meskipun dunia melarang kita untuk bersama, tapi bagiku tak ada alasan untuk berhenti mempertahankanmu. Namun, mereka tetap menilaiku bodoh, tolol, tidak punya otak; benarkah memang aku yang melakukan kesalahan selama ini?

Sore tadi, puncak dari semua pertanyaanku terjawab sudah, suara beratmu cukup menjawab.

"Dek, aku di Polresta Depok." kamu mengawali pembicaraan diikuti dengan embusan napas berat.

"Ngapain di sana?" aku tidak panik, kujawab pernyataanmu dengan anggapan positif.

"Ganja. Satu linting."

Aku diam. Menghela napas. Menghela lagi. Sekali lagi. "Maksudnya? Kok, aku nggak tahu kamu selama ini...."

"Karena aku sayang sama kamu."

Aku terdiam mendengar jawabanmu. "Itu bukan jawaban, Tuan Kriminal."

Dan, kututup panggilan ponselku. Kuhapus nomormu dan aku menangis sekuat yang aku bisa. Rasanya tidak adil kalau aku mencintai orang yang sebenarnya tak pernah aku kenal. Rasanya tidak adil jika aku mencintai kamu yang kurasa sempurna, namun sebenarnya penuh dusta. Rasanya tak adil jika semua ini harus terjadi padaku sementara aku merasa telah sepenuh hati untuk melakukan banyak kebaikan untukmu. Rasanya ini tak adil jika pada akhirnya aku tahu; kamu tak pantas diperjuangkan sedalam itu.

Seharusnya dulu, kudengar ucapan sahabatku. Seharusnya dulu, tak perlu aku mengulurkan tangan ketika kau tawarkan perkenalan. Seharusnya memang, aku tak perlu sedalam ini mencintaimu.

February 19, 2015

Apakah kita akan bertemu lagi? (END)

Reactions: 
Lanjutkan petualanganmu, menjawab pertanyaan apakah selama ini yang kamu rasakan #SamaDenganCinta ? Sebelumnya baca: Apakah kita akan bertemu lagi? (6)


7 Januari 2015, dini hari

            Hujan di luar masih menimbulkan udara dingin di tubuhku. Aku sesekali mengintip ke luar jendela dan melihat apakah hujan akan berhenti dengan segera. Pukul tiga, pagi ini, aku bergegas mandi dan bersiap menuju terminal bayangan bus DAMRI yang tersedia di Cibinong City Mall.
            “Sarapan dulu,” ucap Mama dengan wajah mengantuk, “Nanti kamu masuk angin kalau nggak makan. Busnya pasti dingin.”
            Setangkup roti sudah ada di tanganku, Mama menemaniku di meja makan, menatapku dengan tatapan sayu. “Kamu nggak capek pulang-pergi ke luar kota mulu? Kemarin juga tidurnya cuma beberapa jam.”
            “Namanya tugas negara, Ma. Hehehe.” jawabku singkat sambil tetap mengunyah roti di mulutku, “Berbagi ilmu sampai ke luar kota nggak salah, kok, Ma.”
            Mama menghela napas berat, “Jaga kesehatan, lho, Nak, banyak minum air putih.”
            Aku tersenyum simpul, ponselku berdering nyaring. Jemariku langsung meraih benda berwarna putih keemasan itu.
            “Gue depan rumah,” seperti biasa, tanpa basa-basi, Tyas selalu menyapaku dengan lantang, “Keluar lo, udah mau jam setengah empat ini.  Ketinggalan bus aja lo!”
            “Iya, gue keluar.” tanggapku cepat lalu mematikan ponsel.
            Segera aku mencium kening Mama dan membawa barang perlengkapanku. Mama mengantarkanku sampai depan pagar rumah dan masih menatapku bahkan hingga mobil Tyas berjalan.
            “Udah siap semua?” tanya Tyas tanpa menatap mataku.
            Aku mengangguk.
            “Bete, ya, sama gue karena nggak gue anterin sama bandara? Namanya sidang skripsi.”
            “Iyalah, biasanya juga dianterin, jahat lo emang. Sidang skripsi, kok, mendadak!”
            Tyas tertawa enteng, “Kemarin malam bilangnya oke-oke aja, katanya oke kalau naik DAMRI, katanya oke kalau ada tugas negara.”
            “Plis, deh, Yas. Ini bukan tugas negara.”
            “Tugas negara itu bahasa hiperbolanya, Neng, kirain penulis bakalan tahu. Intinya undangan seminar itu sama pentingnya kayak tugas negara. Titik.”
            Aku hanya menatap jalanan dan memandang lampu-lampu yang masih menyala di jalan Pemda Cibinong. Gelap. Sunyi. Sepi. Tidak banyak kendaraan berlalu-lalang.
            Beberapa menit kami sempat terdiam, lalu aku memutuskan kembali membuka suara.  “Semalam gue chat sama Radit.”
            “Hmm, terus?” ungkap Tyas seakan tak menunjukan ketertarikan pada bahasan yang ingin aku ceritakan.
            “Ya, cuma chat aja, tapi dia offline gitu, padahal gue nanya sesuatu yang bikin gue sebenernya penasaran banget buat tahu jawabannya dia.”
            Tyas pura-pura batuk sebentar seakan menggodaku, “Radit mulu, nggak aus?”
            Baru aku ingin membalas godaan Tyas, ternyata mobilnya telah parkir di dekat DAMRI yang berhenti di dekat Cibinong City Mall.
            “Lo cepet juga nyetirnya,” aku meraih koperku yang ada di jok belakang mobil, “Sebentar lagi busnya pasti jalan.”
            “Bukan gue yang nyetirnya cepet, tapi lo yang kerjaannya bengong mulu mikirin Radit.” ucap Tyas masih tetap dengan nada menggoda, dia mematikan mesin, dan segera menuruni mobil.
            Tyas membawa tasku dan mengantarku sampai ke dalam bus. Dia menyelesaikan pembayaran busku, memberi print out tiket pesawat, dan memberi beberapa wejangan serta nomor ponsel yang bisa dihubungi selama seminar di Jogja.
            Tepat pukul empat pagi, bus DAMRI berjalan menuju bandara Soekarno-Hatta. Aku menatap jalanan dengan perasaan biasa saja. Aku tidak mempedulikan ramainya bus dini hari itu, tidak memikirkan suara dengkuran yang terdengar, dan menatap jalanan secara terus-menerus membuat mataku ingin tertutup dan… terpejam.
            Kepalaku terasa berat ketika aku terpaksa bangun karena rem mendadak sang supir. Aku menggerutu dalam hati dan berlanjut memandangi jam tanganku. Pukul lima pagi. Aku menghela napas dan menguap beberapa kali, karena tak punya alasan lain untuk berlanjut tidur lagi, aku meraih ponselku yang ada di dalam tas.
            Beberapa pesan di Line, Whatsapp, dan BBM telah menyambutku. Aku membalas curhatan yang dikirim oleh pembacaku dan followers Twitter-ku. Ketika asik membalas dan membaca semua curhatan itu, chat Radit tiba-tiba masuk, dan tanpa kusadari; aku tersenyum membaca pesan itu.
            “Pagi, Sari.”
            Aku membaca dengan senang hati dan memikirkan baik-baik kalimat apa yang pantas aku tulis untuk membalas pesan Radit. “Pagi juga, Dit.”
            “Lho, udah bangun, nih, Sar? Lagi apa?”
            Dengan hati berbunga-bunga, aku kembali membaca pesan itu. Berulang-ulang dan memikirkan balasan apalagi yang bisa aku kirim untuk Radit. “Lagi otw ke bandara, nih, kamu lagi apa, Dit?”
            “Lagi di samping perempuan yang nggak nyadar kalau dari tadi sandaran di bahu aku, nih.”
            Jawaban Radit bagiku sangat aneh, berulang-ulang aku membaca kalimat itu dan tak paham dengan yang Radit ucapkan. “Maksudnya, Dit?”
            “Maksudnya, kamu, tuh, daritadi sandaran sama aku pas ketiduran.” ucap suara yang kudengar jelas di sampingku.
            Aku terbelalak. Seorang pria berkacamata, dengan wajah oriental, menatapku dengan hangat. Wajahnya disinari lampu jalanan. Dari kacamatanya, terpantul cahaya lampu jalanan yang berpendar dan sesekali menghilang. Mata itu masih sehangat dulu, sehangat ketika pertama kali bertemu.
            “Kamu ke mana aja?” itulah kalimat pertama yang aku ucapkan ketika kami kembali bertemu lagi, “Aku mencari kamu ke mana-mana.”
            Radit tertawa kecil sesaat, “Aku juga mencari kamu ke mana-mana. Ternyata, ketemunya di bus juga.”
            Entah mengapa, mataku tiba-tiba berair. Radit yang melihatku tak bisa berkata banyak. Dia hanya memelukku dengan rapat dan mencium keningku beberapa kali. Tangisku tak berakhir, dia kembali memelukku lebih erat lagi, “Berterimakasihlah sama Tyas, aku dapat nomornya dia dari bio akun Twitter kamu. Aku minta tolong sama dia buat merencanakan pertemuan ini.”
            “Tyas sialan.” ucapku dengan suara tak jelas. Aku tertawa sekaligus menangis. “Kamu jadi udah tahu kalau Sari yang kamu chat setiap hari itu adalah aku?”
            “Tahu, dong, pura-pura nggak tahu aja supaya kejutan.”
            Mataku kembali berair, “Ini bukan kejutan lagi, Dit, aku bukan cuma terkejut, tapi bahagia.”
            Radit melepaskan peluknya. Dia menatap mataku dalam-dalam dan bisa kubaca kerinduan di matanya. Aku tak bisa berbuat banyak ketika mataku sama-sama berair dan matanya pun tiba-tiba berair. Kami sama-sama menangis, entah tangisan sedih atau bahagia; yang jelas bagiku ini adalah pagi yang paling sempurna.
            Wajah Radit mendekat dan ketika dia menyentuh bibirku dengan bibirnya, aku hanya memejamkan mata sesaat. Ketika pipiku menyentuh pipinya, aku merasa air mata hangatnya turut menempel di pipiku. Radit memperbaiki posisi duduknya dan dia mempersilakan aku untuk bersandar lagi di bahunya.
            Seperti tiga tahun yang lalu.

TAMAT

February 14, 2015

Apakah kita akan bertemu lagi? (6)

Reactions: 
Lanjutkan petualanganmu, menjawab pertanyaan apakah selama ini yang kamu rasakan #SamaDenganCinta ? Sebelumnya baca: Apakah kita akan bertemu lagi? (5)

6 Januari 2015, malam hari
Hingga selarut ini, aku belum tidur. Seusai menyelesaikan materi untuk workshop esok hari, aku juga menyelesaikan beberapa deadline novel yang harus aku selesaikan sebelum akhir Januari. Sambil mendengar Taylor Swift melantunkan lagu Everything Has Changed, aku jadi menghitung segalanya yang telah berubah. Ah, aku merasakan perubahan yang terjadi sebenarnya, aku jadi sering mengharapkan Radit kembali lagi. Ya, aku memang telah menunggunya selama bertahun-tahun, namun entah mengapa kali ini aku sangat tidak ingin kehilangan dia untuk yang kedua kalinya? Perasaan ini namanya apa? Apakah ini sama dengan cinta?
         Walaupun ada banyak hal yang harus aku kerjakan, entah mengapa beberapa kali aku pun tak lupa untuk melirik ponselku. Aku sangat menunggu kabar dari Radit karena sejak percakapan kami terakhir tadi pagi, dia tidak menyapaku lagi. Merasa cukup dengan satu bab yang telah selesai, aku mematikan laptop dan berkeinginan untuk kembali memeriksa barang di koperku.
         Langkahku pelan ke arah koper yang telah berisi banyak keperluan selama di Jogjakarta beberapa hari ke depan. Aku kembali membuka koper itu untuk memeriksa barang-barang yang tak boleh tertinggal. Setelah merasa segalanya cukup rapi, aku kembali menutup koper itu dan merapikan laptopku di meja kerja.
         Ponselku berdering, aku segera meraih sumber suara, kemudian menerima panggilan tersebut.
         “Heh, belum tidur lo?” sapa suara di panggilan teleponku.
         “Baru selesai ngerjain deadline terus periksa koper.” jawabku enteng.
         “Kenapa suara lo? Lesu amat?” seloroh Tyas dengan suara lantang, bahkan suaranya masih terdengar semangat seperti speaker dangdutan di tengah malam seperti ini.
         “Kepikiran Radit, Yas.” aku mengaku dengan lesu, “Dia nggak ngabarin gue seharian.”
         “Jangan kayak anak umur belasan tahun yang baru jatuh cinta, deh, yang ditinggal dikit sama pujaan hati langsung kecut dan asem gitu mukanya. Kayak nggak ada hari esok aja.”
         “Nahan kangennya itu yang susah, Yas.”
         “Lebay lo, ah! Kangen yang kayak gimana? Jangan buru-buru bilang bahwa perasaan lo itu cinta, deh, atau kangen, atau apapun yang ada hubungannya sama perasaan. Bisa aja cuma pelampiasan, bisa aja cuma rasa penasaran, bisa aja cuma lo pengin tahu apa yang sebenernya terjadi ketika Radit nggak ngasih kontak nomornya ke lo. Plis, deh, Dwit. Hidup harus tetap berjalan.”
         “Tapi, gue nunggu dia, Yas.” aku menghela napas, “Tiga tahun nggak sebentar.”
         Tyas tertawa menyindir, “Dalam rentan waktu itu lo juga deket sama yang lain? Cowok yang jadi sumber cerita lo. Siapa aja coba? Gue aja sampe nggak inget! Hadi, Rizky, Ari, Awan, Bintang, nggak sekalian bulan sama matahari aja?”
         “Sialan lo, Yas!” aku tertawa kecut, “Iya, mereka emang singgah di hati gue, tapi Radit ini nggak terhapus, Yas.”
         “Radit udah terhapus,” potong Tyas dengan cepat sebelum penjelasanku selesai, “Lo cuma nggak terima karena dia pergi gitu aja ketika lo merasa hubungan kalian sebenernya bisa lebih dari sekadar kekasih 18 jam.”
         “Menurut gue nggak gitu, Yas.”
         Helaan napas Tyas terdengar berat dari telepon, “Yaudah, lo tidur, deh, besok bakalan jadi hari yang sangat panjang. Gue nggak mau lo kecapekan.”
         Kami sama-sama memutuskan sambungan telepon. Kulihat satu pemberitahuan masuk. Iya, Radit.
         Sorry, gue baru sampe rumah dan hari ini menggila banget. Btw, gue kangen sama lo.”
         “Hai, Dit. Gue juga kangen sama lo.” aku mengetik malu-malu, “Udah mau tidur?”
         Radit offline.