Pages

January 29, 2015

Apakah kita akan bertemu lagi? (3)

Reactions: 
Lanjutkan petualanganmu, menjawab pertanyaan apakah selama ini yang kamu rasakan #SamaDenganCinta ? Sebelumnya baca: Apakah kita akan bertemu lagi? (2)


Kamu adalah kesalahan yang aku banggakan. Pertemuan tiba-tiba denganmu selalu aku anggap anugerah bagiku. Kamu adalah mozaik hilangku yang sebentar lagi akan aku temukan. Aku tersenyum sesaat, mobil melaju menuju Bandara Adisutjipto, hujan pagi itu cukup membuat hari ini merepotkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda motor. Beberapa bangunan kecil menjadi tempat berteduh bagi para pengendara sepeda motor. Sebentar lagi aku akan meninggalkan Jogja, kota paling indah di mataku hingga saat ini. Megah, sederhana, dan meneduhkan. Tempat aku ingin selalu kembali pulang.
Aku izin mendengarkan musik sebentar pada panitia yang sejak tadi mengajakku bicara. Aku masih sedikit butuh istirahat. Aku berusaha memejamkan mata dan merasapi lagu yang terdengar dari headset-ku. Taylor Swift, dengan suaranya yang melengking dalam lagu Enchanted cukup mendebarkan hatiku saat itu. Lagu itu membuat aku mengingat ketika aku pertama kali melihat bola mata Radit. Mata sipit yang cukup teduh untuk dipandang, di balik kacamata minus tiga. Hidung yang memang mancung dilengkapi dengan rahang yang tegas dan tak terlalu lonjong. Dia sangat tampan di mata gadis berumur enam belas tahun, tiga tahun yang lalu, saat aku baru selesai menerbitkan novel pertamaku. Ya, dia gambaran sempurna untuk gadis seusiaku waktu itu. Radit sangat laki-laki sekali.
Suara beratnya jangan ditanya, apalagi bisik napasnya ketika menyentuh telingaku. Jujur, dia berhasil membuat tubuhku lemas karena sentuhan yang tidak bisa diartikan oleh gadis seumuranku tiga tahun yang lalu. Saat itu aku berusia 16 tahun, dia 23 tahun. Dia dewasa, aku kekanak-kanakan. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang remaja baru belajar dewasa ketika bertemu dengan pria dewasa yang selalu ada dalam gambaran mimpinya?
Aku menghela napasku, berusaha membangunkan diriku sendiri dari mimpi tentang Radit, tentang peluk hangatnya, tentang gaya bicaranya, tentang apapun yang aku anggap sempurna dari sosok Radit. Mataku kembali memandang jalan dan sesekali mengajak panita yang mengantarku untuk berbicara mengenai kuliah, mengenai kampus mereka, dan tentunya mengenai hal-hal yang sedang hangat dibicarakan di Jogja.
Sesampainya di Bandara Adisujipto, aku memberi pelukan hangat dan ucapan terima kasih karena panitia seminar tersebut telah menemaniku selama di Jogja. Tak lupa, kami beberapa kali melakukan selfie sebagai kenang-kenangan, sebagai penenang rindu. Aku melambaikan tangan sebelum memasuki ruang check in. Sambil mengantre di tempat check in, aku kembali membuka ponselku. Radit menyapaku dengan ramah dalam kotak chat.
“Jogja hujan terus. Hancur waktu nostalgia.” tulis Radit padaku.
Aku tersenyum beberapa saat sebelum membalas pesannya, ingin rasanya aku menumpahkan segala rasa rinduku sekarang, tidak lagi berpura-pura menjadi Sari, tidak lagi berpura-pura menjadi gadis yang tidak pernah mengenal Radit sebelumnya. Tapi, aku masih menahan diri, aku masih percaya bahwa jika aku mengaku kalau aku adalah Dwitasari, gadis 16 tahun yang dia kecup keningnya tiga tahun yang lalu, tentu saja dia akan marah. Aku tak yakin Radit mengecupku karena dia menyukaiku. Suasana saat itu sangat dingin, pelukan dan kehangatan tentu sangat dibutuhkan, kami terntu hanya terbawa suasana kala itu. Tak ada cinta bukan?
“Sampe di Bogor kayaknya juga bakalan sama, ya?” tanyaku pada Radit, dengan senyum sempurna di bibirku. Menunggu dengan penasaran apa yang selanjutnya akan dibalas Radit.
“Bogor kan emang kota hujan. Gimana, sih, lo?! Hahaha.” jawaban Radit terasa hangat bagiku.
Memang hanya tulisan, beberapa hari ini aku dan Radit hanya berhubungan via tulisan, via dunia maya, tetapi entah mengapa aku merasa ada kehangatan yang meledak di hatiku. Ada kebahagiaan kecil yang aku rasakan ketika bisa bercakap dengan Radit meskipun hanya melalui deretan huruf dan angka. Ingin rasanya saat ini juga aku berbicara mengenai perasaan rinduku pada Radit, tapi entah mengapa semua benar-benar tertahan atau mungkin aku yang tak berani mengatakan?
“Lo lagi apa?” aku mengetik pertanyaan sambil menarik koper kecilku, antreanku semakin dekat.
“Lagi ngantre check in, nih, gila rame banget, padahal sebentar lagi check in ditutup buat pesawat gue.”
“Gila masih sempet-sempetnya lo pegang hp.”
Aku tertawa geli ketika membaca tulisan bodoh Radit, bahkan dalam keadaan terburu-buru, dia masih saja memegang ponselnya, dan sempat-sempatnya membalas pesanku. Tak berbeda denganku, aku pun juga sama bodohnya, check in untuk pesawatku sebenarnya sebentar lagi juga ditutup, dan aku masih mengantre di….
“Iya, saya nggak bawa bagasi, Mbak.” ucap pria berkaus putih di depanku, pria itu masih sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum ketika membaca sesuatu di layar ponselnya. Pria itu mendengarkan ucapan crew Air Asia dengan santai, “Oke, makasih, Mbak.”
Aku mematung memandang sosok yang berlalu itu. Otak lemotku kembali berpikir, bahkan aku masih belum tersambung dengan dunia nyataku ketika pria itu hilang dari pandangan. Aku memandang sebentar ke layar ponselku, melihat foto orang yang sejak tadi menjalin percakapan denganku di ponsel. Wajahnya, bentuk hidungnya, rahangnya, sangat mirip dengan sosok berkaus putih itu.  Aku memandang sekali lagi, ya, aku tidak salah lagi.
“Mbak…” perempuan di depanku memanggilku halus, “Yang di belakang masih ngantre, tolong dipercepat, masa dipanggil tiga kali nggak ada respon? Mbak tujuan ke mana?”
Aku nyengir, “Maaf, Mbak, ketampar masa lalu. Saya Jakarta, Mbak.”
Si mbak yang manis dan penyabar itu langsung menunjukan gate tempat aku harus menunggu pesawat. Aku mengangguk sekaligus mengucapkan terima kasih. Dengan langkah seribu, aku meninggalkan tempat check in dan segera memasuki ruang tunggu.
Sorry baru bales, gue baru santai, nih, tadi hectic lagi ngantre.”
Kutatap pesan di ponselku, aku tidak segera membalas pesan itu. Aku mempercepat langkah, mencari pria yang sejak tadi mencuri perhatianku, pria yang tiga tahun ini kutunggu dan kudoakan selalu.
Aku melihat pungungnya dari kejauhan, langkahku berjalan mendekat, pelan-pelan, diiringi debar jantungku yang memburu. Bangku tunggu di Adisutjipto cukup besar dan panjang. Bangku-bangku panjang tersebut terletak rapi. Saat duduk, setiap orang bisa saling memunggungi satu sama lain. Aku duduk di belakang Radit, memunggungi Radit
“Sorry juga baru bales, Dit. Habis melakukan sesuatu, nih.”
“Ngapain emang? Boker?”
“Bukan, Dit, lebih penting dari itu.”
“Emang ada yang lebih penting dari boker?
“Kalau lo ketemu orang yang lo tunggu selama bertahun-tahun dan lo kebelet boker, emang apa yang lo lakuin?”
“Gila, pertanyaan apaan, tuh, susah amat. Hidup dan mati, sih, itu.”
“Apa lo bakalan membiarkan semua lewat gitu aja dan lo kehilangan dia untuk yang kedua kalinya?”
“Kalau pun gue harus melewatkan dia, berarti itu rencana Tuhan, sih. Bisa aja pas jalan ke kamar mandi waktu gue kebelet boker, gue ketemu cewek yang lebih cantik.”
“Cowok mah gampang, ya, ngomong gitu, Dit. Seandainya cewek juga gampang ngomong kayak gitu, pasti nggak ada yang namanya sakit hati karena nunggu seseorang bertahun-tahun.” aku mengetik dengan perasaan berantakan, mencoba membalik badan dan baru saja ingin memanggil nama Radit.
“Halo, Sayang.” Radit menyapa seseorang di telepon, “Sebentar lagi boarding, kok.”
Aku menghela napas dan merapikan posisi dudukku. Rasanya tak ada lagi harapan, panggilan telepon itu sudah cukup jadi jawaban. Kututup aplikasi chat dan memandangi langit-langit ruang tunggu; menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk mataku. Jika kau menunggu seseorang, diiringi dengan air mata, apakah ini bisa juga disebut #SamaDenganCinta ?

BERSAMBUNG

January 24, 2015

Apakah kita akan bertemu lagi? (2)

Reactions: 
Lanjutkan petualanganmu, menjawab pertanyaan apakah selama ini yang kamu rasakan #SamaDenganCinta ? Sebelumnya baca: Apakah kita akan bertemu lagi?  

29 Desember 2014

         Aku bangun karena dinginnya udara Jogja pagi ini. Hujan terus turun sejak malam. Pagi ini, aku mengawali hari dengan doa pagi, membaca beberapa ayat Alkitab, dan lanjut mandi. Seusai mengenakan pakaian lengkap, aku kembali memeriksa barang-barang yang harus aku bawa ke Jakarta. Pesawatku jam 10 pagi ini. Kulihat beberapa pesan singkat telah mampir di ponselku, aku hanya membalas pesan singkat dari panitia acara seminar kemarin yang ingin menjemputku.
         Waktu begitu cepat berlalu, aku harus kembali pulang. Aku belum sempat bertemu dengan sahabat-sahabatku di Jogja, beberapa mantan, dan teman-teman yang dulu membantu aku memberi informasi mengenai riset novel pertamaku. Dan, aku belum sempat bertemu Radit. Oh, iya, Radit. Aku langsung membuka aplikasi chat yang semalam aku buka. Ada puluhan chat yang masuk dan Radit menjadi salah satu orang yang mengiri chat di sana.
         “Pagi, Sari.” sapanya singkat.
Dia masih online. Aku segera membalas pesan tersebut, “Hey, pagi juga. Lagi apa?”
“Lagi siap-siap ke bandara, nih.”       
Aku berpikir sejenak, “Ke mana? Pulang?”
“Iya, nggak bisa lama-lama di Jogja,” aku membaca kalimat itu dengan jantung berdebar, “Ngejar DAMRI yang ke Cibinong juga, sih. Sampe Soetta nggak dijemput soalnya.”
“Pesawat jam berapa, Dit?” aku tak tahu mengapa aku tiba-tiba membalas seperti ini, mungkin kali inilah Tuhan mengizinkan aku bertemu dengannya.
“Air Asia, jam 10 pagi. Makanya bentar lagi harus berangkat, harus cek in dulu.”
“Jangan lupa sarapan, Dit. Gue off duluan, ya.”
Tanpa menunggu balasan dari Radit, aku langsung menghubungi panitia seminar yang akan menjemputku, “Hey, udah deket?”
“Sepuluh menit lagi kami sampai di depan penginapan, Mbak. Mohon maaf bisa tunggu di depan?” ucap suara ramah yang cukup familiar di telingaku.
“Ya, aku tunggu di depan, ya.” ucapku gusar sambil menarik koperku menuju pintu keluar, “Hati-hati di jalan.”
Aku mengantongi ponselku dan berjalan menuju pintu keluar. Kembali aku melihat aplikasi chat itu sekali lagi, Radit mengirim sebuah pesan lagi.
“Btw, selamat Natal. Terlepas lo ngerayain atau nggak. Hahaha. Waduh, jangan off, nanti gue kangen.”
“Gombal lo!" Aku tertawa dalam hati, "Ini gue online lagi. Selamat Natal juga, Dit. Gue ngerayain, kok.”
“Wah, sama. Gereja mana emang?”
“Gue di Depok, sih.”
“Oh, kalau gue, sih, di Cibinong aja. Yang deket.”
“Dit, sorry kalau ngelantur, gue boleh nanya sesuatu?”
“Gue juga suka ngelantur, kok, hehe. Mau nanya apa?”
Aku menghela napas sebentar sebelum mencoba mengetik, “Lo percaya kebetulan?”
“Kenapa lo nanya aneh gitu?"
"Jawab aja, sih, bawel, ah! Hahaha"
Kalau kebetulan, gue nggak percaya,” ketik Adit pertama kali menjawabku, “Tapi kalau takdir, gue lumayan percaya, sih.”
“Takdir?”
“Misalnya, lo pernah ketemu seseorang, lo ngerasa klop banget sama dia, tapi Tuhan nggak mengizinkan lo punya kontaknya dia di hari lo bertemu sama dia. Terus, kalian pisah, gitu aja, nggak aja penjelasan,” jawab Radit cukup panjang, “Namun, mungkin aja Tuhan punya takdir yang lebih baik buat lo, mungkin aja Tuhan justru mau kembali mempertemukan lo dan orang itu saat kalian udah sama-sama dewasa dan jadi orang sukses.”
"Kalau ternyata nggak bakalan ketemu, Dit?"
Radit off. Aku menelan rasa kecewa, padahal aku sangat ingin mengetahui jawaban Radit. Akhirnya, aku menutup aplikasi chat dan menunggu panitia seminar untuk menjemputku. 
 Mataku berkaca-kaca ketika membaca pesan Radit tadi. Aku menunggu Radit selama tiga tahun, kalau pun Tuhan mau mengizinkan aku bertemu dengannya lagi, aku berjanji tak akan pernah membiarkan Radit pergi dan hilang. Aku tak akan membiarkan Radit pergi lagi tanpa penjelasan apapun. Ketika sibuk mengatur napasku yang mulai sesak, seorang panitia seminar yang menjemputku menyapaku dengan ramah. Dia mempersilakan aku menaiki mobil. Dan, kami membelah jalanan Jogja yang basah, yang pagi itu telah diguyur hujan cukup lebat.
Sambil menunggu lampu merah, aku kembali membuka ponsel, ada pemberitahuan bahwa Radit telah membalas pesanku. Dengan cepat, aku segera membaca pesan itu.
"Kalaupun nggak diizinkan buat ketemu lagi sama orang yang lo suka, sebagai manusia yang percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana indah, gue bakalan nurut aja, sih. Nggak apa-apa kalaupun nggak ketemu lagi, cukup jadi kenangan aja."

Cukup jadi kenangan? Bisikku dalam hati. Apakah akhir dari pencarianku selama tiga tahun ini justru akan berakhir cukup menjadi kenangan? Selama dalam perjalan menuju Bandara Adisutjipto, aku terus memikirkan Radit. Aku terbayang bagaimana rangkulan tangannya yang aku rasakan tiga tahun lalu itu memelukku sangat erat. Aku tak pernah lupa bagaimana hangat napasnya berbisik di telingaku. Aku dan Radit sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun, tapi mengapa dia selalu ada dalam hati dan otakku? Apakah ini #SamaDenganCinta ?

BERSAMBUNG

January 20, 2015

Apakah kita akan bertemu lagi?

Reactions: 
Sebelum memulai petualangan, coba baca: Kekasih 18 Jam :)


28 Desember 2014

Aku menghela napas, seusai mengisi seminar di Jogjakarta, aku langsung melangkah ke ruang ganti. Aku bahagia melihat antusias peserta seminarku hari ini. Mereka tangguh, tegar, percaya diri, banyak pertanyaan, penuh keyakinan. Aku melayani pertanyaan mereka, menyambut peluk mereka, dan dengan senang hati menulis kata motivasi di buku yang mereka bawa. Hari ini sungguh sempurna.
Aku mengganti bajuku, menghapus peluh di keningku, dan segera memasuki mobil yang mengantarku pulang bersama panitia. Aku berbincang banyak hal bersama teman-teman baru, mereka adalah orang-orang baik yang menjemputku dari Adi Sucipto, mengantarku ke penginapan, mengantarkanku ke tempat seminar lagi, dan kembali mengantarku ke penginapan. 
Aku melewati Jombor. Tempat kita berpisah tiga tahun lalu dan hari ini adalah tiga tahun peristiwa itu terjadi. Kamu meninggalkanku tanpa lambaian tangan. Kamu pergi tanpa mengucap kata pisah. Bahkan, ketika sampai di Bogor pun, tak kamu munculkan batang hidungmu sama sekali. Kamu menghilang seperti ditelan bumi, tenggelam bersama kenangan-kenangan singkat kita yang sebenarnya masih sangat sulit aku lupakan. Kamu tetap berada di hati dan otakku bahkan ketika tiga tahun berjalan, bahkan ketika bertahun-tahun bumi telah berputar, namun perasaan itu masih ada dan tetap sama.
Mataku terarah pada toko kecil yang menjual makanan dan minuman. Di sana, aku ingat ketika bus kita berhenti. Semenit sebelum bus berhenti, kamu menjamah rambutku sebentar dan langsung turun tanpa mengucapkan apapun. Aku hanya melihat ke kaca jendela dan kamu memalingkan wajah. Di sana, aku cukup sadar, bahwa kamu adalah sosok yang segera akan kulupakan. Namun, aku salah besar. Kamu abadi dan masih di sini, hidup dalam hari-hariku, padahal kalau boleh di bilang harusnya perempuan yang telah beranjak dewasa ini bisa sesegera mungkin melupakanmu. Harusnya, aku bisa segera menenggelamkanmu karena kepadatan kegiatan dan kesibukanmu. Tapi, tuan, kamu berbeda, dan aku suka.
Sesampainya di penginapan, aku membalas semua chat dan sapaan ucapan terima kasih dari peserta seminar tadi. Aku membalas banyak surat elektronik yang berisi curhatan dari para followers-ku di Twitter. Setelah melakukan kegiatan yang hampir setiap hari aku lakukan itu, aku kembali melanjutkan adegan-adegan novelku yang harus segera aku selesaikan. Untuk mengistirahatkan mata, aku mengambil air putih sebentar dan meletakan gelas tersebut di samping meja kerjaku. 
Udara Jogjakarta malam ini membawa aku dalam ingatan-ingatan yang harusnya aku lupakan. Kamu hadir dalam pikiranku, entah bagaimana caranya padahal kamu sudah hampir terhapus dari memoriku. Aku tahu ini tolol, sudah tiga tahun kamu menghilang dan tak ada kabar, tapi mengapa kamu masih berdiam di otakku? Mengapa kamu masih saja punya tempat di hatiku? Harusnya, sejak 27 Desember 2011 itu, aku langsung melupakanmu dan tak membiarkan diriku terus mengingat bagaimana lembutnya sentuhan jemarimu, bagaimana halusnya belaian tanganmu, bagaimana manisnya suara beratmu. Harusnya aku sudah melupakan semua, namun pertemuan kita yang singkat itu ternyata tidak singkat bagiku. Kamu masih ada, akan terus ada.
Kesal dengan pikiran sendiri yang sejak tadi mengingatkanku pada kenangan kita, aku memutuskan untuk menutup laptop dan beranjak tidur. Suara hujan di Jogjakarta semakin deras, kutarik selimutku dan mencoba untuk memejamkan mata. Namun, tidurku kembali batal, ketika ponselku berdering nyaring. Aku membuka aplikasi chat terbaru yang baru beberapa hari aku unduh, aplikasi yang cukup menarik, aku bisa chat dengan orang-orang yang radiusnya sangat dekat dengan jarakku saat ini. Kulihat banyak sekali friend request yang harus aku terima, aku memilih dan memilih. Sebagai perempuan normal, tentu aku memilih yang bening terdahulu, baru yang dari latar pendidikan lumayan, juga pekerjaan yang cukup ideal menurut ukuranku.
Seusai memilih orang-orang yang bisa berteman denganku di aplikasi chat tersebut, handphone-ku kembali berdering. Dengan wajah malas, aku membalas pesan yang tertera di layarnya.

         "Hai, Sari, kok, masih online? Belum tidur?"
Aku membaca isi pesan itu tanpa meneliti siapa yang mengirimnya. Dengan dingin, aku membalas, "Siapa, ya?"
"Eh, sorry, kebetulan gue lihat lo online." aku membaca ketikan itu dengan masih tak peduli nama pengirimnya, "Gue Radit. Kebetulan lagi liburan di Jogja. Lo juga lagi di Jogja?"
"Hmm.... Radit." aku mengetik singkat, tanpa memberi perhatian lebih pada nama dari sosok si pengirim, "Iya, lagi di Jogja, tapi gue bukan asli sini. Gue tahu lo juga bukan asli sini."
"Yup. Gue stay di Bogor, kebetulan lagi nostalgia di Jogja." aku membaca pesan itu dengan malas, tak berniat untuk membalas lagi, namun ponselku berbunyi lagi, aku meraih benda itu lagi, "Kenapa lo tahu gue bukan asli sini?"
Pertanyaan bodoh, ucapku dalam hati, "Karena lo pakai sapaan gue-lo, kalau lo asli Jogja pasti lo pakai Mas, Mbak, Aku, Kamu. Asli mana emang?"
"Gue Bogor. Kalau lo asli mana?"
"Oh, okay. Bisa samaan gini lagi di Jogja dan gue juga dari Bogor." kebetulan yang belum aku pahami ini cukup membuatku tersenyum, "Lo nostalgia di Jogja? Emang pernah kuliah di sini?"
"Gue mikrobiologi pertanian, UGM, sih. Bukan jurusan favorit." jawabnya pendek.
Wait. Wait. Mikrobilogi Pertanian, UGM? Aku mengulang dalam hati. Radit, Mikrobiologi Pertanian, UGM? Sekali lagi aku mengulang informasi itu. Radit, Mikrobilogi Pertanian, UGM? Aku terbelalak. Aku langsung bangun dari tempat tidurku dan membuka profile dari sosok yang bertukar sapa denganku. Ada tiga foto di sana. Foto pria dengan mata sipit, berkacamata, dengan rambut cepak rapi. Aku ingat wajah itu. Bentuk alisnya, hidungnya, lekuk bibirnya. Dia orangnya.
Cepat-cepat aku kembali ke kotak chat, Radit sudah mengirim beberapa pertanyaan yang belum aku jawab. Pertanyaannya sederhana aku bekerja sebagai apa, sibuk apa, dan tinggal di Bogor bagian mana. Aku tak peduli pertanyaan itu. Aku langsung mengetik pertanyaan yang sejak tiga tahun ini memenuhi otakku.
Aku mengetik dengan cepat, “Kamu ke mana aja, Dit? Aku kangen.” Lalu, merasa kalimat itu tidak pantas untuk mengawali pertemuan pertama kami kembali, aku langsung menghapus kalimat itu lagi.
“Sekarang kamu di mana, Dit? Kerja apa? Udah merried? Punya anak berapa?” aku berpikir lagi, pertanyaan ini lebih tolol. Kembali aku menghapus pertanyaan itu lagi.
“Tiga tahun ini aku nunggu kamu, nyari kamu, nulis tentang kamu. Maaf ada beberapa cerpen yang berisi tentang kamu. Aku kalut. Aku nyari kamu ke mana-mana. Padahal, rumah kita bukannya deket banget, Dit?” pertanyaan yang kutulis makin tolol, aku menghapus pertanyaan itu lagi, dan memutuskan untuk menjawab pertanyaan Radit sesuai yang dia tanyakan padaku.
“Gue di Bogor yang mana, ya? Gue jelasin juga belum tentu lo ngerti. Hehehe.” aku menghela napas dan mencoba menahan gejolak di hati, “Cuma mahasiswi biasa di UI. Kerjaan gue ngegalau aja, sering ditinggalin pas lagi cinta-cintanya, sih.”
Aku tidak berusaha langsung menembak Radit dengan ribuan pertanyaan yang bertahun-tahun bercokol di hatiku. Lagipula, Radit belum tentu mengingatku, dia tentu sudah punya hidup yang lebih baik dari tiga tahun yang lalu. Dia pasti sudah punya kekasih, atau istri, atau anak-anak yang lucu, dan aku tak perlu jadi benalu dalam kebahagiaannya.
“Lo suka galau? Emang umur lo berapa sekarang?
“Gue sekarang 20, kalau lo?”
“November kemarin 27 tahun. Tua, ya? Haha.”
“Kalau kita jadian, lo ukurannya terlalu tua buat gue.”
Terlihat dari kotak chat, Radit sedang menulis pesan, “Bisa minta PIN BB lo?”
Aku berpikir sejenak, Radit mungkin tidak tahu siapa aku yang sebenarnya. Namun, dalam bayangku, Radit pasti membenciku, dia pasti begitu mudah melupakanku karena aku tak begitu spesial dalam hidupnya. Buktinya? Selama tiga tahun ini, dia tak mencariku, ketika aku masih diam-diam mencari dan berusaha sebisa mungkin mengetahui kabarnya. Seharusnya, aku pun tak perlu lagi terlihat mengulurkan tangan ketika Radit tiba-tiba datang dengan wajah polos, wajah bodoh karena dalam pikirannya tak ada ingatan tentang pertemuan aku dan dia di bus menuju Jogjakarta.
“Gue nggak pernah kasih PIN BB ke orang yang belum gue kenal, kita bisa chat di sini. Gue cukup aktif, kok.”
“Wah, galak juga. Okelah, istirahatkan pikiran lo. Udah malem, lo nggak tidur?”
“Ini gue lagi siap-siap tidur, kok.”
“Oke, selamat malam.”
Percakapan kami berakhir, aku tidak tahu harus merasa lega atau malah menyesal atau malah merasa telah dipertemukan kembali oleh seseorang yang selama ini kuanggap hilang. Namun, kalau aku boleh bertanya pada Tuhan dan sesegera mungkin Tuhan menjawabnya, aku ingin bertanya satu hal; apa arti dari semua ini?

Apakah maksud dari perasaan ini? Jika aku menunggu seseorang bertahun-tahun, menunggu tanpa tahu kabarnya sama sekali, menunggu tanpa kenal lelah. Apakah ini #SamaDenganCinta?