April 20, 2015

Lukaku sekarang, sesalmu kemudian

Reactions: 
Di depanku hanya ada wajah-wajah lesu yang seharian mengais upah layak di Jakarta. Mereka kembali ke tempat tinggal mereka untuk kembali memeluk saudara dan keluarga. Aku duduk di samping ibu-ibu yang tertidur kelelahan, sementara di depanku ada seorang pria yang sejak tadi memperhatikan wajahku yang aneh. Inilah wajah orang yang sedang patah hati; kosong dan tak bercahaya. 

Aku sudah tiga kali berpindah kereta, dari Stasiun Pondok Cina, aku berdiam diri hingga Stasiun Bogor. Dari Stasiun Bogor, aku berdiam diri sampai Stasiun Jakarta Kota. Dari Stasiun Jakarta Kota tadi, sekarang aku berusaha menyadarkan diri, waktu sudah pukul sebelas malam, dan kalau harus berdiam diri hingga ke Stasiun Bogor lagi, sama saja menyiksa diriku sendiri. Aku masih menunggu kereta ini agar sampai di Stasiun UI, namun masih dengan pikiran yang kosong; aku kembali melamun.

Tadi siang, seusai kelas di kampus, aku langsung kembali mengurus meeting penerbit di daerah Jakarta Selatan. Hari ini, tepat tanggal 20 April 2015, tepat hari jadi kita yang ketiga bulan. Aneh, ya, masih seumur jagung saja dirayakan, tapi ini bagian dari janji kita bukan? Semua berusaha kita rayakan sebagai peringatan bahwa hubungan kita cukup mengandung keseriusan. Itulah yang aku kira selama ini. Kamu begitu manis dan sempurna di mataku, itulah mengapa aku mengabaikan banyak pria hanya demi memperjuangkanmu. Kamu tawarkan banyak hal yang aku inginkan, perhatian, rasa cinta, rasa dihargai, dan rasa menyenangkan dicemburui olehmu. Awalnya, semua sangat sempurna, meskipun satu bulan kita terlewati karena kamu harus menyelesaikan sesuatu dengan temanmu, dua bulan hari jadi kita juga batal karena aku sibuk menandatangani buku pre order-ku. Harapanku sangat tinggi bahwa di hari jadi kita yang ketiga bulan ini, kita bisa melakukan hal yang sama.

Siang itu, kamu janji untuk datang. Aku sudah duduk di sana, ditempat yang kita janjikan dengan napas yang ngos-ngosan. Aku mengejar waktu, tak ingin membuatmu menunggu. Di jemariku, ada dua tiket dan ada dua popcorn serta soft drink. Aku yakin kamu akan datang. Film sudah diputar, aku berkali-kali menatap bangku di sampingku, dengan keyakinan penuh, aku selalu berkata, "Pasti datang. Dia pasti datang. Semenit lagi pasti datang, lima menit lagi pasti datang, tiga puluh menit lagi pasti datang, satu jam lagi pasti datang." Dan, bahkan sampai film usai, aku menonoton sendirian.

Aku terdiam. Sekali lagi hanya bisa diam. Aku makan di tempat kesukaan kita, duduk sendirian, kemudian menatap banyak pasangan kekasih yang terlihat nampak bahagia. Rasa-rasanya aku ingin bertanya padamu, mengapa kita tak pernah sebahagia mereka? Aku tak tahu apa yang mengubahmu jadi seperti ini, mengubah sosokmu jadi pria yang tak lagi semanis dan seelegan dulu. Kamu yang sekarang adalah kamu yang kasar, tidak peduli, tidak perhatian, tidak pernah menghubungiku duluan, dan selalu menganggap hubungan kita seperti permainan yang sesuka hati kaubisa akhiri.

Aku makan sendirian, sesering yang aku bisa juga terus menatap ponsel. Berharap kamu mengabariku dan ada secercah penyesalan yang kau titipkan dalam chat-mu. Berjam-jam aku menunggu dan ternyata semua harapan itu berakhir hanya menjadi harapan. Kamu tidak datang, menghilang, tanpa kabar. Ini bukan yang pertama, aku tahu sebenarnya saat ini mungkin aku tidak lagi penting bagimu. Mungkin, selam aini aku terlihat seperti gadis pengganggu yang selalu ingin tahu kabarmu, tapi sadarkah kamu di balik gadis bodoh ini tersimpan sosok perempuan yang tak ingin kamu sakit? Sadarkah kamu bahwa dalam diriku yang mungkin tak pernah berarti apapun bagimu ini ada seorang perempuan yang sedang menjaga cintanya hanya untukmu satu-satunya? Sadarkah kamu bahwa dalam rumitnya sikapku, tersembunyi seorang perempuan yang ingin kamu seperhatian dulu lagi. 

Aku benar-benar kehilangan manisnya dirimu. Aku kehilangan kita yang dulu. Aku tidak menangisi pelukmu yang tiba-tiba tak ada, aku tidak meratapi kecupmu yang tak pernah lagi kau berikan, aku hanya menyesali mengapa semua berubah jadi seperti ini ketika aku sedang nyaman-nyamannya denganmu?

Aku masih terdiam di stasiun kereta dan betapa patah hati ini sungguh membuatku tersiksa. Kamu menghilang dan tak ada kabar, tidak mempedulikan aku yang menunggumu sejak siang tadi. Aku seperti terlempar ke negeri asing, negeri penuh kesepian dan sakit hati, dan dalam negeri itu-- aku tak menemukan sosokmu. Yang aku tahu, intinya kamu memang tidak punya niat untuk bertemu, dan memang sudah saatnya aku tak perlu lagi memaksakan perasaan dan cinta ini.

Selama ini kamu terus diam, sehingga aku merasa hubungan kita baik-baik saja. Meskipun selama ini selalu, selalu, dan selalu aku yang terluka. Aku masih menganggap ini baik-baik saja dan aku masih memperhatikanmu, masih mencintaimu, masih mengagumimu seperti biasa; meskipun aku tahu sepertinya hubungan kita yang aku perjuangan setengah mati ini akan segera berakhir hanya dalam hitungan hari.

Aku hanya ingin berpesan, jangan pernah menyesal karena kamu memperlakukan aku seperti ini. Aku tidak akan menyumpahi, berdoa pada Tuhan agar Dia mengutukmu, tapi satu hal yang kautahu; tak akan ada cinta yang sama, tak ada perhatian sekuat yang aku punya, tak akan ada perempuan yang mau merendahkan dirinya, hanya demi mencintai pria biasa. Tak akan ada sosok yang mencintaimu dengan sangat sabar, kecuali aku.

Dan, saat kamu menyia-nyiakan itu semua, kamu akan tahu, betapa selama ini kamu melakukan kebodohan nomor satu. Dalam hitungan hari, laki-laki memang anti sakit hati, tapi liat nanti. Di bulan kedua, di bulan ketiga, di bulan keempat, sesakmu justru akan lebih parah dari sesakku. Di bulan-bulan penuh kesesakanmu itu, tentu aku sedang giat-giatnya berbahagia karena novelku tentang sakit hati ditinggalkan olehmu telah terbit dan saat itu tentu aku sedang sangat bahagia bersama pria yang lebih baik darimu, tentunya dia berlian, bukan sampah sepertimu.

April 11, 2015

Hujan yang mengobati kemaraumu

Reactions: 
Aku mencintaimu dan hal itu bisa kaubaca dari mataku, mata yang tiga tahun lalu menatapmu. Saat itu, aku masih berumur tujuh belas tahun, di mata gadis seusiaku, kamu adalah pria sempurna. Lihatlah kacamatamu, lensa tidak terlalu tebal dengan frame berwarna hitam. Matamu sipit, tapi itu bukan kekurangan bagiku, mataku juga sipit, ya, mata kita sama. Hidungmu mancung dan rasanya aku ingin mendekatkan hidungku dengan hidungmu agar bisa kurasakan hela lembut napasmu. Pipimu tidak tirus, pas dengan rahang yang juga tak terlalu tegas. Bibirmu tipis, sempurna untuk menjatuhkan ciuman pertama.

Aku mencintaimu dan hal itu masih bisa kaubaca hingga saat ini. Saat kita duduk berdua, menatap ramainya Jalan Raya Bogor malam ini. Pada akhirnya, aku bertemu lagi denganmu, pria yang kucari bertahun-tahun lamanya. Mungkin, wajahku terlihat lebih segar karena aku menyembunyikan jutaan peluh, ribuan keringat, ketika terseok-seok kelelahan mencari keberadaan dirimu. Sekarang, kita ada di sini, kamu di kursi kemudi, aku duduk di sebelah kiri, membicarakan masa lalu yang tidak pernah mati.

Aku mencintaimu dan kamu tak akan pernah tahu sosokmu selalu ada dalam novelku. Malam ini, kita bercerita banyak hal, kamu bertanya soal karya-karyaku dan aku berusaha memahami semua pekerjaanmu. Berkali-kali aku melirik ke arahmu, kacamatamu yang memantulkan cahaya lampu jalanan, mengingatkanku pada sosokmu tiga tahun lalu. Waktu kita bertemu di bus menuju Yogyakarta. Cara bicaramu, tawamu, helaan napasmu benar-benar tak berubah. Aku merasakan detak yang sama, kecanggung yang sama, seperti tiga tahun lalu ketika pertama kali aku bertemu denganmu.

Aku mencintaimu dan pembicaraan antara gadis usia 20 tahun dan pria dewasa berusia 27 tahun ini membuatku semakin tak mengerti, apakah kamu juga merasakan hal yang sama? Sekali lagi aku menatap wajahmu, kamu terlalu tampan untuk gadis bodoh sepertiku, gadis yang menghabiskan tiga tahunnya hanya untuk menunggu pria yang tak akan pernah jatuh cinta padanya. Aku menghela napas berat, pertemuan kita kali ini bisa saja bukan karena cinta, mungkin hanya rasa penasaranmu yang ingin tahu apakah aku masih sekanak-kanak dulu, atau lebih menyakitkan lagi mungkin kamu hanya ingin memastikan apakah aku masih ingin dan masih sabar untuk menunggumu?

Aku mencintaimu dan dekat denganmu seperti ini, membuatku semakin sulit untuk bernapas, napasku tersengal seakan ingin tertawa tapi sebenarnya aku menangis. Aku sekarang duduk di samping pria, yang seharusnya aku bisa melakukan hal yang lebih dari sekadar duduk. Harusnya aku sudah berteriak sejak tadi, menangis, bertanya, meminta penjelasan mengapa dia pergi dengan begitu mudah? Mengapa dia pergi tanpa lambaian tangan? Bayangkan saja, gadis tolol ini telah menunggumu selama bertahun-tahun dan kamu tak membiarkan dia menjelaskan apa yang menjadi endapan dalam hatinya.

Aku mencintaimu, sayangnya kamu memperlakukanku seperti gadis bodoh yang jemarinya seakan sudah berada dalam genggamanmu. Kita duduk berdua, di dalam komidi putar yang siap memutar nasib kita. Kamu tertawa kegirangan, sementara aku berpegangan ketakutan-- kebingungan. Saat komidi putar kita berada di atas, aku dan kamu melihat keindahan yang sama, tawa kita mengalahkan seluruh tawa yang paling keras. Lalu, komidi putar kita berangsur bergerak ke bawah. Kamu tiba-tiba keluar, menutup, kemudian mengunci pintu komidi putarku. Kamu pergi begitu saja, tidak memberiku pesan atau nasihat jika aku ketakutan menghadapi putaran permainan ini sendirian. Langkahmu berangsur menjauh dan komidi putar yang awalnya kita naiki berdua, kembali berputar lagi. Aku sendirian di sana, menatap punggungmu yang jauh, dan semakin jauh.

Aku mencintaimu lalu sekarang apa arti pertemuan kita kali ini jika hanya ingin menimbulkan luka di hatiku? Aku tahu gadis itu! Aku tahu siapa saja yang ada dalam percakapan di ponselmu! Jadi, apa maumu menemuiku untuk yang kedua kalinya? Ingin mengajakku bermain komidi putar lagi, menunggu sampai putaran terbawah, lalu meninggalkanku sendirian lagi? Tidak, Tuan, kali ini aku tidak akan membiarkanmu turun dan mengunci pintu komidi putar kita. Saat sampai di putaran terbawah, aku akan memegang lenganmu hingga kamu tak akan sempat kabur. Biarkan komidi putar ini terus berputar, terus berjalan. Biarkan aku pusing dan sempoyongan, selama bersamamu; aku rela untuk mabuk.

Aku mencintaimu dan karena sekarang aku bukan lagi gadis kecil berusia tujuh belas tahun, maka aku siap untuk diajak masuk ke dalam permainanmu. Aku mencintaimu dan karena sekarang aku adalah gadis berusia dua puluh tahun, maka aku akan memberanikan diri menahanmu agar tak lagi pergi. Aku tak peduli siapa perempuan yang lain yang kau dekati, aku tak ingin tahu apakah kamu juga mencintaiku atau tidak, aku tak ingin memahami apa arti peluk dan rangkulmu kali ini, yang jelas aku tak ingin kehilangan kamu untuk yang kedua kali.

Aku mencintaimu dan rasanya tiga tahun menunggumu sudah sangat cukup bagiku. Lihatlah gadis polos ini, gadis yang diam-diam mengagumimu meskipun mungkin kamu hanya hidup dalam angannya. Arahkanlah pandanganmu padaku, aku tahu aku ini hanyalah bumi yang merindukan langit teduh sepertimu, tapi izinkan aku menjadi hujan yang selalu siap mengobati kemaraumu.

March 29, 2015

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya

Reactions: 
Harusnya aku memang tak perlu menghubungimu lagi, jika hanya untuk bertengkar dan memperdebatkan hal-hal tolol yang membuatku memutuskan pergi. Harusnya tak perlu aku membantumu lagi, jika hanya untuk kamu sakiti untuk yang kedua kali. Harusnya sudah sejak dulu kita berpisah, sehingga aku tak merasa terluka sedalam ini.

Kamu menawarkan banyak hal yang seharusnya aku tolak. Aku kira, aku sekuat baja, ternyata aku hanya Hawa yang tertipu dengan bisikan ular berbisa. Kamu hanya orang biasa, tidak punya apa-apa, tak ketemukan sisi menarik dari dirimu. Bodohnya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, perasaan itu pun masih sama meskipun aku berusaha sekuat mungkin untuk menghindarimu.

Sekarang, aku merasa menjadi gadis paling tolol yang tiba-tiba lemah karena tersakiti cinta. Kamu pergi justru di saat aku berharap semua mimpi kita bisa menjadi nyata. Aku kira kamu berbeda dan di otakku telah muncul banyak khayalan yang suatu saat bisa kita abadikan. Telah tergambar jelas bagaimana kelak kita bisa masuk gereja bersama, merapal doa yang sama, dan mengucapkan Doa Bapa Kami secara bersama. Aku telah membangun semua mimpi itu meskipun kamu tidak pernah tahu, tapi tiba-tiba kamu remukan semua, kamu hancurkan tanpa pikir panjang, dan kamu meninggalkanku seperti tak terjadi apapun.

Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Jadi orang yang sulit untuk bernapas karena tidak tahu  kabarmu. Kamu tidak akan pernah tahu rasanya jadi perempuan yang diam-diam menangisimu ketika membaca seluruh pesan singkat kita dulu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi orang paling menderita karena merasa dibohongi sejauh ini. Kamu tidak akan pernah tahu dan otak bodohmu itu juga tak akan pernah paham. Perasaan dan hatimu yang telah mati tak akan mungkin mengerti.

Iya, aku yang bodoh, semua salahku, selalu salahku. Aku tidak bisa melupakan berisiknya suara sepeda motormu, kendaraan yang selalu mengantarku pulang hingga depan pagar rumah. Aku tidak bisa lupa caramu memandangku dari kaca spion, bagaimana matamu melirikku dengan ramah. Aku tidak bisa melupakan pelukmu, yang selalu kuanggap rumah untuk pulang. Aku tidak bisa melupakan leluconmu yang sebenarnya tak lucu, namun karena aku sangat mencintaimu, sebisa mungkin aku berusaha tertawa. Aku tidak bisa lupa bagaimana tawamu bisa benar-benar membuatku merasa lega dan tenang. Aku tidak bisa melupakan dialek anehmu saat berbicara, gaya bicaramu yang selalu membuatku rindu. Aku tidak bisa melupakan genggaman erat jemarimu yang entah bagaimana bisa seketika menenangkanku. Aku tidak bisa berhenti untuk menatap pagar rumah, berharap kamu tiba-tiba ada di situ, membawakanku selusin senyuman dan sepotong pelukan.

Aku ini gadis bodoh yang hobinya cuma menangis, bermimpi, menulis, lalu tak pernah tahu apa yang harus aku lakukan jika hatiku sedang sangat remuk seperti ini. Aku tak tahu apa arti dari semua ini. Apa arti hubungan kita yang berjalan hanya sesaat ini. Apa arti kebohonganmu yang sebenarnya tak bisa dimaafkan tapi selalu berusaha aku maafkan. Aku tak mengerti mengapa sekarang kita masih berkabaran, namun status hubungan kita penuh ketidakjelasan

Aku tak mengerti mengapa pria bodoh sepertimu bisa membuatmu merasa gadis paling gila di dunia. Kamu membuat duniaku jungkir balik, pernapasanku selalu sesak karena lelah menangis, dan mataku selalu kabut karena penuh mendung. Kamu mengubah duniaku jadi berbeda. Aku sudah terbiasa denganmu. Terbiasa dengan pesan singkatmu, terbiasa dengan sapaanmu di ujung telepon, terbiasa dengan pelukmu, terbiasa dengan suara sepeda motormu, terbiasa dengan hadirmu, terbiasa dengan kita. Bagaimana mungkin kamu dan aku, yang sempat menjadi kita, harus kembali berpisah lagi menjadi aku dan kamu, sedangkan aku sangat nyaman menjadi kita?

Kamu tentu tidak akan pernah tahu rasanya jadi aku. Rasanya jadi gadis yang selalu menatap ponsel hanya karena menunggu kabar darimu. Kamu tak tahu rasanya jadi wanita yang tak tahu apa-apa, namun tiba-tiba dunianya jadi dibikin berbeda karena kehadiranmu. Kamu tak akan pernah tahu rasanya jadi aku-- yang selalu menunggumu pulang.

Ada banyak mimpi yang belum terwujud bersamamu. Salah satunya adalah aku ingin memelukmu semalaman, tak perlu ada percakapan, memelukmu sudah lebih dari cukup. Aku ingin mendengar degup jantungmu, merasakan degup cinta seperti apa yang ada di dadamu. Jika sudah mewujudkan mimpi yang satu itu, silakan kalau kamu mau pergi. Pergilah, kembali pada Tuhanmu, berhentilah berpura-pura seakan kamu mengenal Tuhanku.